Ketika Harta Karun Kabilah Jurhum Kembali Ditemukan
Ketika Harta Karun Kabilah Jurhum Kembali Ditemukan - Setelah berabad-abad Mekah mengalami gonta-ganti kabilah yang memegang kendalinya, kini tibalah giliran Quraisy yang memegang hak kendali atas kota Mekah.
Namun, dari setiap pergantian nampaknya menyisakan sakit dan ketidak relaan dari kabilah yang terpaksa harus memberikan kendali. Hal inipun dialami sebagai masalah besar yang harus dihadapi oleh Kabilah Quraisy, karena kekayaan utama dari Mekah yang berupa sumber air zamzam kini hilang entah ke mana dan seperti tertelan bumi tanpa ada yang mengetahui.
Sejak awal berdirinya, bangunan hitam yang berdiri tegak buah karya dari Nabi Ibrahim 'Alaihiss Salam yang kemudian dikenal dengan sebutan Ka'bah sudah menjadi tujuan para peziarah dari berbagai penjuru arab disetiap tahunnya. Ketika musim haji tiba, kota ini akan menjadi lautan manusia yang selalu mendatangkan keuntungan bagi penduduk Mekah.
Ketika Ka'bah mulai berdiri dari sini ajaran tauhid mulai menancap di sanubari setiap penduduk kota Mekah. Ajaran yang diwariskan Nabi Ibrahim AS ini menjelma menjadi gaya hidup penduduk kota itu dan semakin kuat seiring waktu hingga menjadi istiadat yang kekhasan melambangkan citra abadi dari kota suci Mekah.
Namun, seiring perjalanan waktu hingga memasuki abad yang semakin menjauh dari saat berdirinya Ka'bah, silih bergantinya pemegang kendali atas kota religi ini dan semakin maraknya pengaruh yang datang dari luar kota telah membuat ajaran tauhid kian memudar. Ajaran Tauhid membaur dengan keyakinan paganisme yang membuat Allah yang mereka kenal itu semakin menjauh dari lubuk hati mereka.
Keberadaan Allah sudah seperti simbol belaka dan masyarakat Mekah lebih memilih untuk memohon kepada berhala-berhala yang ada disekitar Ka'bah. Penduduk arab mulai melupakan ajaran awal mereka yang mengajarkan tentang dari mana mereka berasal dan kemana mereka akhirnya akan kembali setelah menjalani kehidupan pana didunia ini. Mereka tidak percaya lagi kepada kehidupan yang akan dijalaninya setelah mereka berhadapan dengan kematian.
Disaat kota ini jatuh ke tangan kabilah Quraisy ternyata masih ada beberapa orang yang masih mempertahankan kepercayaan mereka terhadap ajaran Tauhid yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim as. Salah satu diantara orang-orang yang kuat memegang ajaran itu adalah Abdul Muthalib yang menjadi panutan sekaligus pemimpin yang ditaati oleh Bani Quraisy dan penduduk Mekah pada umumnya.
Seperti yang dihadapi oleh kabilah-kabilah sebelumnya, tanggung jawab pemegang kendali kota Mekah ini adalah bertanggung jawab melayani para peziarah yang datang dari berbagi penjuru Arab dengan menyediakan setiap hal yang dibutuhkan oleh mereka. Kewajiban utama yang harus dihadapi oleh Abdul Muthalib salah satunya adalah pekerjaan menyediakan air minum untuk para peziarah yang dikenal dengan istilah Syiqayah.
Dari tahun ke tahun, Abdul Muthalib biasa menyediakan air minum dari sumur-sumur yang ada disekitaran Ka'bah dan dari pinggiran kota Mekah untuk memaksimalkannya. Namun, masalah ketersediaan air bersih ini kadang menjadi masalah berat ketika musim haji bertepatan dengan musim kemarau yang panjang.
Ketika musim kemarau tiba, maka sumur-sumur akan terlihat mengering dan menjadi pemandangan yang sangat menyeramkan. karena kekeringan itu akan terlihat hingga ke dasar sumur seolah tanah yang ada didasar sumur itu tidak pernah mengenal air sekalipun.
Kedatangan para peziarah menjadi keuntungan tersendiri bagai penduduk kota Mekah. Dengan mengandalkan penghasilan dari perdagangan maka kedatangan para peziarah akan mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda bagi mereka. Dari kegiatan tahunan ini, mereka terus dimanjakan dengan harta yang bergelimang.
Namun disisi lain, Syiqayah merupakan pekerjaan yang sangat berat dan seiring waktu seakan menjadi kesulitan yang semakin menjadi. Hal itu telah menjadi beban yang semakin berat yang harus ditanggun oleh Abdul Muthalib.
Jika kebutuhan akan air minum dari tamu-tamu Ka'bah gagal dipenuhi, maka kepercayaan kepada suku Quraisy sebagai pemegang kendali akan pudar dan membuat harga diri mereka hancur dimata para peziarah. Dan inilah yang selalu menjadi sebab terjadinya pergantian penguasaan kendali atas kota Mekah.
Rasa prihatin dihari Abdul Muthalib pun semakin hari semakin menjadi dan semakin serius. Beban dipundaknya semakin berat. Dia benar-benar sadar bahwa kedatangan para peziarah disetiap tahunnya bukan menurun tetapi selalu mengalami peningkatan. Hal itu bertolak belakang dengan ketersediaan sumber air yang semakin tahun bukan mengalami peningkatan tetapi malah sering berhadapan dengan kekurangan.
Panasnya kota Mekah telah membuat kebutuhan akan air minum sangat tinggi. Air telah menjadi kekayaan yang paling vital bagi penduduk Mekah, bahkan lebih berharga ketimbang emas dan perak. Padahal sebelumnya, kebutuhan akan air ini sudah cukup terpenuhi dengan sebuah sumur yang melengkapi warisan yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim as, yaitu sumur zam zam.
Sayang sekali sumur itu sudah tidak ada bekasnya lagi. Kabilah Khuza'ah yang sebelumnya menjadi pengendali kota Mekah, tidak berusah dengan serius untuk bisa menemukan sumur zamzam yang di timbun oleh Kabilah Jurhum yang berhasil mereka usir. Hingga akhirnya sumur Mukjizat itu seakan terlupakan dan digantikan dengan sumur-sumur yang mereka gali disekitar Mekah.
Hari demi hari dihabiskannya untuk berpikir guna mencari jawaban atas masalah yang sedang dihadapi Kabilah Quraisy. Dan akhirnya dia harus rela kehilangan banyak energinya hanya sekedar digunakan untuk berpikir. Setiap lelah datang dia akan menghampiri tempat paporitnya ketika melepaskan semua penat, yaitu Hijir Isma'il yang ada disamping Ka'bah.
Pada suatu malam rasa kantuk itu datang tak tertahankan, kedua matanya semakin berat dan akhirnya terpulas dalam tidurnya ditempat itu. Tidak lama setelah kedua matanya terpejam Abdul Muthalib tersentak dengan mimpi yang mengampiri tidurnya. Dia merasa telah ditemui oleh seorang lelaki yang berpakaian serba putih dan menyuruhnya untuk menggali salah satu tempat disekitar at-Thoyibah (sebutan lain Ka'bah).
Pada keesokan harinya Abdul Muthalib menceritakan mimpi yang dialaminya semalan kepada sahabat-sahabatnya dan mereka menafsirkan meimpi itu sebagai sebuah petunjuk menuju harapan bisa menemukan sumber air yang mereka impikan untuk mengatasi masalah mereka. Kemudian mereka memintanya untuk kembali tidur ditempat yang sama agar kembali bermimpi dan menemukan jawaban yang lebih jelas dari mimpi berikutnya.
Abdul Muthalib pun menuruti apa yang mereka sarankan hingga akhirnya mimpi itu terulang kembali hingga hari ke tiga dengan pesan yang sangat jelas dari mimpi itu.
Zamzam yang selama ini terlupakan dan sempat lenyap bagaikan permata yang terjatuh di tengah perjalanan, kini sudah ada petunjuk keberadaannya dengan jelas. Namun dimanakah lokasi itu berada?
Sampailah pada suatu saat dimana matanya tertuju pada salah satu titik yang ada sisi Ka'bah. Dengan penuh konsentrasi, lokasi itu diamatinya hingga berakhir pada suatu kesimpulan inilah lokasi sumur zamzam yang sebenarnya. Lokasi ini benar-benar sesuai dengan petunjuk yang ia dapatkan dari mimpinya.
Lokasi ini adalah tempat berdirinya dua berhala Ishaf dan Na'ilah. Diantara keduanya ada gagak yang sedang mematuk sisa daging kurban, karena tempat itu sering digunakan oleh orang jahiliyah untuk memberikan pengorbanan kepada 2 berhala itu. Selain itu ada banyak semut yang saling bergantian keluar masuk lobang yang ada dibawah salah satu patung. "Inilah Tempatnya" gumam Abdul Muthalib.
Dibantu oleh al-Harits satu-satunya putra yang milikinya pada waktu itu, Abdul Muthalib langsung mulai melakukan penggalian dengan tanpa berpikir panjang. Dibenaknya hanya ada sumber air yang akan memberikan manfaat bagi penduduk Mekah dan para jemaah haji yang akan datang berkunjung sebentar lagi.
Bukan berarti keputusan ini tidak ada resikonya, Abdul Muthalib sangat sadar bahwa penduduk Mekah akan marah besar bila mengetahui apa yang sedang ia lakukan saat ini. Lokasi tempat berdirinya dua berhalah yang mereka hormati sebagai tempat paporit mereka untuk melakukan prosesi pengurbanan.
Pekerjaan ini akan dianggap oleh mereka sebagai perbuatan lancang yang tidak menghormati kesakralan tempat itu. Namun, Abdul Muthalib bukan sosok yang gegabah dalam mengambil keputusan, semuanya telah ia perhitungkan matang-matang. Penggalian ia lakukan sendiri, sementara putra si mata wayangnya ia perintahkan untuk memberikan perlindungan disaat ia sedang melakukan penggalian.
Mengingat lokasi ini berada ditempat yang terbuka, ternyata kegaduhan yang ditimbulkan akibat pukulan cangkul yang menghantam tanah kering itu mengundang perhatian orang-orang yang kebetulan berada disekitar wilayah itu.
Satu persatu orang mulai menghampiri sumber datangnya suara. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ada orang yang sedang merusak tempat suci yang sangat mereka hormati. Kemudian mereka lebih kaget lagi, karena yang melakukan keonaran itu adalah pemimpin mereka sendiri.
Semakin lama akhirnya kecaman dari penduduk Mekah mulai muncul sambil meminta kepada Abdul Muthalib agar pekerjaan lancang ini segera dihentikan. Namun ia menjawab dengan tegas bahwa apa yang dilakukannya itu adalah untuk menemukan sumur zamzam. Ini bukan masalah lancang dan tidak hormat.
Namun, alasan yang dijelaskan Abdul Muthalib tidak membuat penduduk Mekah percaya begitu saja, mereka tetap kekeh bahwa ini adalah penistaan terhadap tempat suci meraka dan tetap meminta agar pekerjaan penggalian ini segera dihentikan.
Keadaanpun semakin memanas, warga yang selama ini di ayominya tampak tidak lagi memberikan rasa hormat kepada pemimpinnya, hanya karena mereka mengira pemimpinnya telah berbuat kurang ajar kepada sesembahan mereka.
Dalam keadaan ini dada Abdul Muthalib mulai sesak, bukan karena debu-debu yang berhamburan, tetapi karena saat ini sudah sangat jelas, warganya tidak lagi memberikan rasa hormat dan kepecayaan kepadanya. Keputusan harus di ambil, namun pekerjaan ini tidak boleh dihentikan, akhirnya, dengan tujuan meredam suasana yang semakin memanas ini, keluar pernyataan dalam bentuk nazdar dari mulut Abdul Muthalib.
"Ditempat ini kalian hanya bisa menyembelih hewan kuran untuk tuhan ka'bah. Sekarang lihatlah! aku akan mengorbankan lebih dari semua yang kalian kurbankan itu disini, aku akan mengorbankan darah dagingku sendiri."
Nadzar yang keluar dari Abdul Muthalib pun membuat orang-orang yang sedang dalam amarah itu pun tercengang dan menyentak kesadaran mereka. Bahwa Abdul Muthalib memang sedang serius, ingatan mereka kembali pada kejadian yang terjadi dimasa nenek moyang mereka Ibrahim as, yang pernah bejanji untuk mengorbankan Ismail demi mentaati perintah Allah swt.
Melihat tekad membara yang terus menyala dan merasuki pemimpin mereka, akhirnya satu persatu berlalu dari tempat itu dan membiarkan Abdul Muthalib melanjutkan kembali pekerjaannya.
Harta karun yang dikubur didalam sumur zamzam oleh Kabilah Jurhum pada masa lalu, akhirnya kini ditemukan oleh Abdul Muthalib dan putranya.
Mengetahui ada harta karun yang ditemukan oleh Abdul Muthalib dan putranya akhirnya mereka kembali merapat dan menawarkan diri kepada mereka berdua. Mereka semuanya kini merasa memiliki hak atas apa yang telah ditemukan itu. Hingga menimbulkan kekacauan baru yang di timbulkan oleh syahwat rakus pada harta kekayaan.
Kekayaan kabilah Jurhum yang ditemukan itu berupa dua patung emas dan peralatan perang dari berbagai jenis.
Setiap orang akhirnya berbondong-bondong kepada Abdul Muthalib, mereka merasa merekapun berhak memiliki harta karun itu.
Dengan sangat bijak, Abdul Muthalib memberikan sikap yang bijaksana. Tidak lagi melihat apa yang telah mereka lakukan ketika penggalian baru dimulai pada beberapa waktu lalu. Keputusan pun di ambil, bahwa kepemilikan atas harta karun itu akan ditentukan dengan cara diundi.
Enam bejana disiapkan untuk pengundian itu, dengan aturan dua bejana yang berwarna kuning adalah milik Ka'bah, dua bejana berwarna hitam milik Abdul Muthalib sementara dua bejana putih adalah milik masyarakat Quraisy.
Setelah diundi, ternyata dua bejana mengarah ke dua patung emas, sehingga patung itu ditetapkan menjadi milik Ka'bah. Dua bejana hitam mengarah pada peralatan perang, sehingga semua jenis peralatan perang itu menjadi milik Abdul Muthalib dan dua bejana yang berwarna putih dan jatuh paling akhir menjadi milik orang-orang quraisy. Oleh karena sesuai aturan itu, maka orang Quraisy tidak mendapatkan apa-apa.
Kebenaran tidak akan pernah keliru semenjak dahulu. Kebenaran selalu menuntut perjuangan penuh ketulusan dan berani berkorban. Kebenaran adalah tujuan dari kehidupan, maka kehidupan ini menjadi ujian bagai manusia untuk mencapai berbagai kebenaran dalam kehidupan dunia untuk bekal menikmati kebenaran yang Allah siapkan dialam akhirat untuk mereka yang berhasi melewati ujian kehidupan didunia ini.
Wallahu a'lam bish showab.
Namun, dari setiap pergantian nampaknya menyisakan sakit dan ketidak relaan dari kabilah yang terpaksa harus memberikan kendali. Hal inipun dialami sebagai masalah besar yang harus dihadapi oleh Kabilah Quraisy, karena kekayaan utama dari Mekah yang berupa sumber air zamzam kini hilang entah ke mana dan seperti tertelan bumi tanpa ada yang mengetahui.
Sejak awal berdirinya, bangunan hitam yang berdiri tegak buah karya dari Nabi Ibrahim 'Alaihiss Salam yang kemudian dikenal dengan sebutan Ka'bah sudah menjadi tujuan para peziarah dari berbagai penjuru arab disetiap tahunnya. Ketika musim haji tiba, kota ini akan menjadi lautan manusia yang selalu mendatangkan keuntungan bagi penduduk Mekah.
Ketika Ka'bah mulai berdiri dari sini ajaran tauhid mulai menancap di sanubari setiap penduduk kota Mekah. Ajaran yang diwariskan Nabi Ibrahim AS ini menjelma menjadi gaya hidup penduduk kota itu dan semakin kuat seiring waktu hingga menjadi istiadat yang kekhasan melambangkan citra abadi dari kota suci Mekah.
Namun, seiring perjalanan waktu hingga memasuki abad yang semakin menjauh dari saat berdirinya Ka'bah, silih bergantinya pemegang kendali atas kota religi ini dan semakin maraknya pengaruh yang datang dari luar kota telah membuat ajaran tauhid kian memudar. Ajaran Tauhid membaur dengan keyakinan paganisme yang membuat Allah yang mereka kenal itu semakin menjauh dari lubuk hati mereka.
Keberadaan Allah sudah seperti simbol belaka dan masyarakat Mekah lebih memilih untuk memohon kepada berhala-berhala yang ada disekitar Ka'bah. Penduduk arab mulai melupakan ajaran awal mereka yang mengajarkan tentang dari mana mereka berasal dan kemana mereka akhirnya akan kembali setelah menjalani kehidupan pana didunia ini. Mereka tidak percaya lagi kepada kehidupan yang akan dijalaninya setelah mereka berhadapan dengan kematian.
Disaat kota ini jatuh ke tangan kabilah Quraisy ternyata masih ada beberapa orang yang masih mempertahankan kepercayaan mereka terhadap ajaran Tauhid yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim as. Salah satu diantara orang-orang yang kuat memegang ajaran itu adalah Abdul Muthalib yang menjadi panutan sekaligus pemimpin yang ditaati oleh Bani Quraisy dan penduduk Mekah pada umumnya.
Seperti yang dihadapi oleh kabilah-kabilah sebelumnya, tanggung jawab pemegang kendali kota Mekah ini adalah bertanggung jawab melayani para peziarah yang datang dari berbagi penjuru Arab dengan menyediakan setiap hal yang dibutuhkan oleh mereka. Kewajiban utama yang harus dihadapi oleh Abdul Muthalib salah satunya adalah pekerjaan menyediakan air minum untuk para peziarah yang dikenal dengan istilah Syiqayah.
Dari tahun ke tahun, Abdul Muthalib biasa menyediakan air minum dari sumur-sumur yang ada disekitaran Ka'bah dan dari pinggiran kota Mekah untuk memaksimalkannya. Namun, masalah ketersediaan air bersih ini kadang menjadi masalah berat ketika musim haji bertepatan dengan musim kemarau yang panjang.
Ketika musim kemarau tiba, maka sumur-sumur akan terlihat mengering dan menjadi pemandangan yang sangat menyeramkan. karena kekeringan itu akan terlihat hingga ke dasar sumur seolah tanah yang ada didasar sumur itu tidak pernah mengenal air sekalipun.
Kedatangan para peziarah menjadi keuntungan tersendiri bagai penduduk kota Mekah. Dengan mengandalkan penghasilan dari perdagangan maka kedatangan para peziarah akan mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda bagi mereka. Dari kegiatan tahunan ini, mereka terus dimanjakan dengan harta yang bergelimang.
Namun disisi lain, Syiqayah merupakan pekerjaan yang sangat berat dan seiring waktu seakan menjadi kesulitan yang semakin menjadi. Hal itu telah menjadi beban yang semakin berat yang harus ditanggun oleh Abdul Muthalib.
Jika kebutuhan akan air minum dari tamu-tamu Ka'bah gagal dipenuhi, maka kepercayaan kepada suku Quraisy sebagai pemegang kendali akan pudar dan membuat harga diri mereka hancur dimata para peziarah. Dan inilah yang selalu menjadi sebab terjadinya pergantian penguasaan kendali atas kota Mekah.
Rasa prihatin dihari Abdul Muthalib pun semakin hari semakin menjadi dan semakin serius. Beban dipundaknya semakin berat. Dia benar-benar sadar bahwa kedatangan para peziarah disetiap tahunnya bukan menurun tetapi selalu mengalami peningkatan. Hal itu bertolak belakang dengan ketersediaan sumber air yang semakin tahun bukan mengalami peningkatan tetapi malah sering berhadapan dengan kekurangan.
Panasnya kota Mekah telah membuat kebutuhan akan air minum sangat tinggi. Air telah menjadi kekayaan yang paling vital bagi penduduk Mekah, bahkan lebih berharga ketimbang emas dan perak. Padahal sebelumnya, kebutuhan akan air ini sudah cukup terpenuhi dengan sebuah sumur yang melengkapi warisan yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim as, yaitu sumur zam zam.
Sayang sekali sumur itu sudah tidak ada bekasnya lagi. Kabilah Khuza'ah yang sebelumnya menjadi pengendali kota Mekah, tidak berusah dengan serius untuk bisa menemukan sumur zamzam yang di timbun oleh Kabilah Jurhum yang berhasil mereka usir. Hingga akhirnya sumur Mukjizat itu seakan terlupakan dan digantikan dengan sumur-sumur yang mereka gali disekitar Mekah.
Mimpi bertemu seorang laki-laki
Rasa letih itu pun menghinggapi Abdul Muthalib. Beban yang semakin besar semakin terasa berat dipundaknya. Masalah kelangkaan air telah menjadi masalah besar yang sangat menghantui kabilah Quraisy hingga menuntut Abdul Muthalib untuk menguras pikirannya guna menjawab tuntutan mereka.Hari demi hari dihabiskannya untuk berpikir guna mencari jawaban atas masalah yang sedang dihadapi Kabilah Quraisy. Dan akhirnya dia harus rela kehilangan banyak energinya hanya sekedar digunakan untuk berpikir. Setiap lelah datang dia akan menghampiri tempat paporitnya ketika melepaskan semua penat, yaitu Hijir Isma'il yang ada disamping Ka'bah.
Pada suatu malam rasa kantuk itu datang tak tertahankan, kedua matanya semakin berat dan akhirnya terpulas dalam tidurnya ditempat itu. Tidak lama setelah kedua matanya terpejam Abdul Muthalib tersentak dengan mimpi yang mengampiri tidurnya. Dia merasa telah ditemui oleh seorang lelaki yang berpakaian serba putih dan menyuruhnya untuk menggali salah satu tempat disekitar at-Thoyibah (sebutan lain Ka'bah).
Pada keesokan harinya Abdul Muthalib menceritakan mimpi yang dialaminya semalan kepada sahabat-sahabatnya dan mereka menafsirkan meimpi itu sebagai sebuah petunjuk menuju harapan bisa menemukan sumber air yang mereka impikan untuk mengatasi masalah mereka. Kemudian mereka memintanya untuk kembali tidur ditempat yang sama agar kembali bermimpi dan menemukan jawaban yang lebih jelas dari mimpi berikutnya.
Abdul Muthalib pun menuruti apa yang mereka sarankan hingga akhirnya mimpi itu terulang kembali hingga hari ke tiga dengan pesan yang sangat jelas dari mimpi itu.
"Galilah sumur zamzam! sebuah sumber air yang melimpa dan akan mencukupi kebutuhan jemaah haji. Sumur itu berada di satu tempat yang banyak kotoran dan darahnya. Disana selalu ada burung gagak yang mematuk-matuk dan ada sarang semutnya."
Zamzam yang selama ini terlupakan dan sempat lenyap bagaikan permata yang terjatuh di tengah perjalanan, kini sudah ada petunjuk keberadaannya dengan jelas. Namun dimanakah lokasi itu berada?
Menggali Sumur Zamzam Yang Sempat Hilang
Semangat Abdul Muthalib kini kembali membara, kehormatan kabilah Quraisy sebagai pemegang kendali atas kota mekah, kini bisa terselamatkan. Menemukan sumur zamzam adalah gol dari harapannya kini. Jengkal demi jengkal tanah kota Mekah ia telusuri dengan begitu teliti untuk menemukan sesuatu yang ditunjukan oleh mimpinya.Sampailah pada suatu saat dimana matanya tertuju pada salah satu titik yang ada sisi Ka'bah. Dengan penuh konsentrasi, lokasi itu diamatinya hingga berakhir pada suatu kesimpulan inilah lokasi sumur zamzam yang sebenarnya. Lokasi ini benar-benar sesuai dengan petunjuk yang ia dapatkan dari mimpinya.
Lokasi ini adalah tempat berdirinya dua berhala Ishaf dan Na'ilah. Diantara keduanya ada gagak yang sedang mematuk sisa daging kurban, karena tempat itu sering digunakan oleh orang jahiliyah untuk memberikan pengorbanan kepada 2 berhala itu. Selain itu ada banyak semut yang saling bergantian keluar masuk lobang yang ada dibawah salah satu patung. "Inilah Tempatnya" gumam Abdul Muthalib.
Dibantu oleh al-Harits satu-satunya putra yang milikinya pada waktu itu, Abdul Muthalib langsung mulai melakukan penggalian dengan tanpa berpikir panjang. Dibenaknya hanya ada sumber air yang akan memberikan manfaat bagi penduduk Mekah dan para jemaah haji yang akan datang berkunjung sebentar lagi.
Bukan berarti keputusan ini tidak ada resikonya, Abdul Muthalib sangat sadar bahwa penduduk Mekah akan marah besar bila mengetahui apa yang sedang ia lakukan saat ini. Lokasi tempat berdirinya dua berhalah yang mereka hormati sebagai tempat paporit mereka untuk melakukan prosesi pengurbanan.
Pekerjaan ini akan dianggap oleh mereka sebagai perbuatan lancang yang tidak menghormati kesakralan tempat itu. Namun, Abdul Muthalib bukan sosok yang gegabah dalam mengambil keputusan, semuanya telah ia perhitungkan matang-matang. Penggalian ia lakukan sendiri, sementara putra si mata wayangnya ia perintahkan untuk memberikan perlindungan disaat ia sedang melakukan penggalian.
Mengingat lokasi ini berada ditempat yang terbuka, ternyata kegaduhan yang ditimbulkan akibat pukulan cangkul yang menghantam tanah kering itu mengundang perhatian orang-orang yang kebetulan berada disekitar wilayah itu.
Satu persatu orang mulai menghampiri sumber datangnya suara. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ada orang yang sedang merusak tempat suci yang sangat mereka hormati. Kemudian mereka lebih kaget lagi, karena yang melakukan keonaran itu adalah pemimpin mereka sendiri.
Semakin lama akhirnya kecaman dari penduduk Mekah mulai muncul sambil meminta kepada Abdul Muthalib agar pekerjaan lancang ini segera dihentikan. Namun ia menjawab dengan tegas bahwa apa yang dilakukannya itu adalah untuk menemukan sumur zamzam. Ini bukan masalah lancang dan tidak hormat.
Namun, alasan yang dijelaskan Abdul Muthalib tidak membuat penduduk Mekah percaya begitu saja, mereka tetap kekeh bahwa ini adalah penistaan terhadap tempat suci meraka dan tetap meminta agar pekerjaan penggalian ini segera dihentikan.
Keadaanpun semakin memanas, warga yang selama ini di ayominya tampak tidak lagi memberikan rasa hormat kepada pemimpinnya, hanya karena mereka mengira pemimpinnya telah berbuat kurang ajar kepada sesembahan mereka.
Dalam keadaan ini dada Abdul Muthalib mulai sesak, bukan karena debu-debu yang berhamburan, tetapi karena saat ini sudah sangat jelas, warganya tidak lagi memberikan rasa hormat dan kepecayaan kepadanya. Keputusan harus di ambil, namun pekerjaan ini tidak boleh dihentikan, akhirnya, dengan tujuan meredam suasana yang semakin memanas ini, keluar pernyataan dalam bentuk nazdar dari mulut Abdul Muthalib.
"Ditempat ini kalian hanya bisa menyembelih hewan kuran untuk tuhan ka'bah. Sekarang lihatlah! aku akan mengorbankan lebih dari semua yang kalian kurbankan itu disini, aku akan mengorbankan darah dagingku sendiri."
Nadzar yang keluar dari Abdul Muthalib pun membuat orang-orang yang sedang dalam amarah itu pun tercengang dan menyentak kesadaran mereka. Bahwa Abdul Muthalib memang sedang serius, ingatan mereka kembali pada kejadian yang terjadi dimasa nenek moyang mereka Ibrahim as, yang pernah bejanji untuk mengorbankan Ismail demi mentaati perintah Allah swt.
Melihat tekad membara yang terus menyala dan merasuki pemimpin mereka, akhirnya satu persatu berlalu dari tempat itu dan membiarkan Abdul Muthalib melanjutkan kembali pekerjaannya.
Ketika Harta Karun Kabilah Jurhum Kembali Ditemukan
Kini, ayah dan anak itu kembali meneruskan pekerjaannya dengan semangat penuh ketulusan, kendati dalam pandangan ratusan pasang mata yang mengarah kearah mereka dengan tatapan yang sinis penuh kemarahan, mereka berdua tetap bisa bekerja dengan tenang dan fokus. Hingga akhirnya pukulan cangkul Abdul Muthalib seperti mengenai benda Aneh yang terkubur dibalik tanah keras yang sedang dicabiknya.Harta karun yang dikubur didalam sumur zamzam oleh Kabilah Jurhum pada masa lalu, akhirnya kini ditemukan oleh Abdul Muthalib dan putranya.
Mengetahui ada harta karun yang ditemukan oleh Abdul Muthalib dan putranya akhirnya mereka kembali merapat dan menawarkan diri kepada mereka berdua. Mereka semuanya kini merasa memiliki hak atas apa yang telah ditemukan itu. Hingga menimbulkan kekacauan baru yang di timbulkan oleh syahwat rakus pada harta kekayaan.
Kekayaan kabilah Jurhum yang ditemukan itu berupa dua patung emas dan peralatan perang dari berbagai jenis.
Setiap orang akhirnya berbondong-bondong kepada Abdul Muthalib, mereka merasa merekapun berhak memiliki harta karun itu.
Dengan sangat bijak, Abdul Muthalib memberikan sikap yang bijaksana. Tidak lagi melihat apa yang telah mereka lakukan ketika penggalian baru dimulai pada beberapa waktu lalu. Keputusan pun di ambil, bahwa kepemilikan atas harta karun itu akan ditentukan dengan cara diundi.
Enam bejana disiapkan untuk pengundian itu, dengan aturan dua bejana yang berwarna kuning adalah milik Ka'bah, dua bejana berwarna hitam milik Abdul Muthalib sementara dua bejana putih adalah milik masyarakat Quraisy.
Setelah diundi, ternyata dua bejana mengarah ke dua patung emas, sehingga patung itu ditetapkan menjadi milik Ka'bah. Dua bejana hitam mengarah pada peralatan perang, sehingga semua jenis peralatan perang itu menjadi milik Abdul Muthalib dan dua bejana yang berwarna putih dan jatuh paling akhir menjadi milik orang-orang quraisy. Oleh karena sesuai aturan itu, maka orang Quraisy tidak mendapatkan apa-apa.
Kebenaran tidak akan pernah keliru semenjak dahulu. Kebenaran selalu menuntut perjuangan penuh ketulusan dan berani berkorban. Kebenaran adalah tujuan dari kehidupan, maka kehidupan ini menjadi ujian bagai manusia untuk mencapai berbagai kebenaran dalam kehidupan dunia untuk bekal menikmati kebenaran yang Allah siapkan dialam akhirat untuk mereka yang berhasi melewati ujian kehidupan didunia ini.
Wallahu a'lam bish showab.

Posting Komentar untuk "Ketika Harta Karun Kabilah Jurhum Kembali Ditemukan"