Akibat Nadzar, Ayah Abdullah Harus Menghadapi Dilema
Akibat Nadzar, Ayah Abdullah Harus Menghadapi Dilema Dan Kegelisahan. Beberapa tahun setelah peristiwa heboh penemuan sumur zamzam, kini Abdul Muthalib telah memiliki 10 orang putra dan 6 orang putri yang sangat ia cintai.
Mereka adalah: Al-Harits, Al-Abbas, Hamzah, Abu Thalib, Az-Zubeir, Hajlaa, Al-Muqawwim, Dhirar, Abu Lahab (namanya Abdul Uzza), Shafiyyah, Ummu Hakiim Al-Baidha’, ‘Atikah, Amiimah, Arwaa, Barrah dan Abdullah.
Kendati telah dikaruniai putra putri dan telah menjadi keluarga besar yang sangat dihormati serta disegani kaumnya. Ternyata hal itu tidak membuat beban pikiran dibenaknya menjadi ringan. Nadzar yang diucapkannya ketika melakukan penggalian untuk menemukan sumur zamzam, kini sudah sudah saatnya ditepati dan membutnya terjebak dalam dilema tinggi.
Pantang bagi Syaibah untuk tidak menepati janji nadzarnya, dengan rasa yang menyesakan dada kemudian ia memanggil seluruh putra dan putrinya dan mengemukakan mengenai nadzar yang diucapkannya beberapa tahun yang lalu.
Mendengar hal yang disampaikan oleh sang ayah, anak-anak ini pun tercengang. Kaget bukan kepalang seakan tidak percaya bila kini setelah mereka dewasa, salah satunya harus merasakan pedihnya tebasan pedang Ayah kandungnya sendiri.
Persoalan kematian bukanlah masalah utama yang menakutkan bagi mereka. Justru kematian ditangan sang Ayah demi kehormatan merupakan sebuah kebanggaan bagi mereka.
Tetapi, hal yang paling menakutkan dan mengerikan bagi mereka adalah ketika mereka harus menyaksikan kematian saudaranya sendiri didepan mata mereka. Itu jauh lebih menyakitkan dari pada pedang yang dihunuskan ketubuh mereka.
Bingung bercampur aduk dengan berjuta rasa yang tiada warna, kini menjadi angin topan yang sedang memporak porandakan kedamaian rasa yang ada dibenak mereka.
Keesokan harinya, ayah dan anak-anaknya ini keluar untuk menuju Ka'bah dan melaksanakan undian guna menentukan siapa yang akan dikorbankan.
Perjalanan mereka di pagi ini benar-benar membuat penduduk Mekah merasa kaget. Kejadian yang tidak biasa dilakukan oleh keluarga pemimpin mereka, kini menyisakan tanya yang berbuntut pada rasa penasaran mengenai hal yang akan terjadi selanjutnya.
Sesampainya disekitar Ka'bah Rombongan keluarga besar ini semakin gelisah. Terutama yang menjadi pemimpin mereka, kini harus bertekuk dalam kekalahan akibat nadzarnya didepan juru ramal yang siap menentukan siapa yang akan dikorbankan.
Kegelisahan itu semakin menjadi menyambangi seluruh jiwa Abdul Muthalib, ketika terbersit dalam banaknya bila yang akan terpilih itu adalah Abdullah, anak bungsu kesayangan yang kini sedang tumbuh menuju dewasa. Betapa hatinya semakin remuk terberai menjadi kepingan rasa yang tak berarti.
Betul sekali, nadzar itu sangat penting untuk dipenuhi oleh dirinya, karena ini adalah sesuatu yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Kendati dalam perasaan yang limbung, Abdul Muthalib tetap harus menampilkan dirinya dengan tegar walaupun bayangan wajah sibungsu terus menikam rasanya saat ini.
Juru ramalpun diminta segera melakukan pengundian sementara masyarakat Quraisy yang hadir disana tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya kemudian ikut merasakan getaran kegelisahan pemimpin mereka saat menyerahkan deretan anak panah kepada juru ramal untuk diundi.
Kini anak panah itu sudah ditangan juru ramal, detik-detik pengundian hanya menunggu kesiapan sang juru ramal melesatkan anak-anak panah itu pada titi yang dituju. Abdul Muthalib semakin tegang, didalam hatinya semakin bergejolak jutaan rasa yang tidak bisa ia lawan. Penantian dalam sesaat ini lebih menyiksa dirinya dari pada harus melawan ratusan musuh tanpa senjata sekalipun.
Pandangannya kini sengaja mengarah kearah Abdullah, anak bungsu yang memiliki paras paling tampan. Dalam bayangannya jika Abdullah yang menjadi korban perbuatan nadzarnya rasa pedih hatinya tidak akan ada obat yang bisa menjadi penawarnya. Sungguh suasana paling mengerikan yang pernah ia jalani selama ini.
Ketika sang juru ramal memberikan aba-aba bahwa pengundian siap dilaksanakan, setiap hati yang ada disana mulai tegang, setiap jantung mulai berdegup dengan kencang serta puluhan rasa semakin cemas dalam kegelisahan mendalam.
Apa yang dikhawatirkan Abdul Muthalib, ternyata itu pula hasil akhir dari pengundian ini. Nama Abdullah ditetapkan sebagai satu-satunya anak yang harus dikorbankan. Tubuhnya melunglai seakan tulang-tulangnya tercabut, hatinya hancur menjadi kepingan debu yang berhamburan tanpa arah dan puluhan mata yang melihat tak henti menyeka air mata yang tiba-tiba membanjiri wajah mereka.
Rasa sesal sudah tiada atinya, Nadzar telah terucap, pilihan sudah ditetapkan dan hanya menyisakan saat-saat yang mendebarkan itu.
Sebilah pedang tajam tergenggam ditangan kanan Abdul Muthalib dengan eratnya, sementara tangan kirinya menuntun Abdullah dengan penuh kelembutan menuju altar yang berada diantara berhala Ishaf dan Na'ilah.
Dengan langkah yang beriringan ayah dan anak ini semakin mengeratkan genggaman tangan mereka seakan keduanya saling mengatakan "semua akan baik-baik saja" seperti yang terjadi pada nenek moyang mereka, yaitu Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih putranya Nabi Ismail sebagai bentuk ketundukan kepada Allah swt.
Ditengah-tengah langkah mereka berdua yang dipakasakan untuk tetap tegak, ternyata masayarakat yang hadir mulai menjunjukan keperduliannya. Sikap tidak menerima keputusan ini mulai muncul, protes mulai ditunjukan terutama oleh keluarga dari klan Makhzum yakni Fatimah binti Amr yang merupakan ibu kandung dari Abdullah.
Ibu mana yang akan rela membiarkan anaknya yang tak berdosa harus menjadi korban dan melepaskan nyawa tanpa ada pembelaan. Satu-satunya istri Abdul Muthalib yang memiliki pengaruh yang sangat kuat dikalangan masyarakat Mekah waktu itu, tetap tidak bisa menerima keputusan ini, kendati sangat memahami nadzar yang harus ditepati oleh sang suami.
Protes itu semakin kuat, diikuti semua masyarakat yang menyaksikan kejadian itu, hingga mereka bersepakat untuk berupaya menghentikan pembunuhan yang akan dilakukan oleh Abdul Muthalib.
Keegoisan Abdul Muthalib telah memaksa salah seorang pimpinan dari klan Makhzum untuk bertindak, yakni Al-Mughirah ibn 'Abdillah langsung turun tangan untuk mengingatkannya. Bagai manapun ia memiliki hak atas Abdullah putra dari putrinya Fatimah dan bertanggung jawab atas keselamatan cucunya itu.
Sambil meraih tanggan Abdul Muthalib, Al-Mughirah dengan lantang berkata :
Sampai disini kekuatan cinta sementara masih menyelamatkan nyawa Abdullah dari tajamnya pedang Abdul Muthalib.
Lanjutkan ke : Undian Itu Berbuah Kebahagiaan Bagi Abdul Muthalib
Mereka adalah: Al-Harits, Al-Abbas, Hamzah, Abu Thalib, Az-Zubeir, Hajlaa, Al-Muqawwim, Dhirar, Abu Lahab (namanya Abdul Uzza), Shafiyyah, Ummu Hakiim Al-Baidha’, ‘Atikah, Amiimah, Arwaa, Barrah dan Abdullah.
Kendati telah dikaruniai putra putri dan telah menjadi keluarga besar yang sangat dihormati serta disegani kaumnya. Ternyata hal itu tidak membuat beban pikiran dibenaknya menjadi ringan. Nadzar yang diucapkannya ketika melakukan penggalian untuk menemukan sumur zamzam, kini sudah sudah saatnya ditepati dan membutnya terjebak dalam dilema tinggi.
Baca : Ketika Harta Karun Kabilah Jurhum Kembali DitemukanPeristiwa itu seakan berputar kembali didalam ingatan Abdul Muthalib, terutama pada detik ketika ia mengucapkan nadzarnya bahwa jika ia memiliki anak lebih dari 10 maka ia akan mengorbankan salah satunya.
Pantang bagi Syaibah untuk tidak menepati janji nadzarnya, dengan rasa yang menyesakan dada kemudian ia memanggil seluruh putra dan putrinya dan mengemukakan mengenai nadzar yang diucapkannya beberapa tahun yang lalu.
Mendengar hal yang disampaikan oleh sang ayah, anak-anak ini pun tercengang. Kaget bukan kepalang seakan tidak percaya bila kini setelah mereka dewasa, salah satunya harus merasakan pedihnya tebasan pedang Ayah kandungnya sendiri.
Persoalan kematian bukanlah masalah utama yang menakutkan bagi mereka. Justru kematian ditangan sang Ayah demi kehormatan merupakan sebuah kebanggaan bagi mereka.
Tetapi, hal yang paling menakutkan dan mengerikan bagi mereka adalah ketika mereka harus menyaksikan kematian saudaranya sendiri didepan mata mereka. Itu jauh lebih menyakitkan dari pada pedang yang dihunuskan ketubuh mereka.
Bingung bercampur aduk dengan berjuta rasa yang tiada warna, kini menjadi angin topan yang sedang memporak porandakan kedamaian rasa yang ada dibenak mereka.
"wahai ayah, selanjutnya, apa yang sepatutnya kami lakukan?" tanya salah seorang putra Abdul Muthalib selepas mendengarkan penjelasan ayahnyaKemudian mereka masing masing mengambil 1 buah anak panah dan menuliskan namanya, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Ayah tercintanya.
"Sekarang, tulislah nama kalian masing-masing pada anak panah itu!" jawabnya dengan tatapan mata yang serius.
Keesokan harinya, ayah dan anak-anaknya ini keluar untuk menuju Ka'bah dan melaksanakan undian guna menentukan siapa yang akan dikorbankan.
Perjalanan mereka di pagi ini benar-benar membuat penduduk Mekah merasa kaget. Kejadian yang tidak biasa dilakukan oleh keluarga pemimpin mereka, kini menyisakan tanya yang berbuntut pada rasa penasaran mengenai hal yang akan terjadi selanjutnya.
Sesampainya disekitar Ka'bah Rombongan keluarga besar ini semakin gelisah. Terutama yang menjadi pemimpin mereka, kini harus bertekuk dalam kekalahan akibat nadzarnya didepan juru ramal yang siap menentukan siapa yang akan dikorbankan.
Kegelisahan itu semakin menjadi menyambangi seluruh jiwa Abdul Muthalib, ketika terbersit dalam banaknya bila yang akan terpilih itu adalah Abdullah, anak bungsu kesayangan yang kini sedang tumbuh menuju dewasa. Betapa hatinya semakin remuk terberai menjadi kepingan rasa yang tak berarti.
Betul sekali, nadzar itu sangat penting untuk dipenuhi oleh dirinya, karena ini adalah sesuatu yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Kendati dalam perasaan yang limbung, Abdul Muthalib tetap harus menampilkan dirinya dengan tegar walaupun bayangan wajah sibungsu terus menikam rasanya saat ini.
Juru ramalpun diminta segera melakukan pengundian sementara masyarakat Quraisy yang hadir disana tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya kemudian ikut merasakan getaran kegelisahan pemimpin mereka saat menyerahkan deretan anak panah kepada juru ramal untuk diundi.
Kini anak panah itu sudah ditangan juru ramal, detik-detik pengundian hanya menunggu kesiapan sang juru ramal melesatkan anak-anak panah itu pada titi yang dituju. Abdul Muthalib semakin tegang, didalam hatinya semakin bergejolak jutaan rasa yang tidak bisa ia lawan. Penantian dalam sesaat ini lebih menyiksa dirinya dari pada harus melawan ratusan musuh tanpa senjata sekalipun.
Pandangannya kini sengaja mengarah kearah Abdullah, anak bungsu yang memiliki paras paling tampan. Dalam bayangannya jika Abdullah yang menjadi korban perbuatan nadzarnya rasa pedih hatinya tidak akan ada obat yang bisa menjadi penawarnya. Sungguh suasana paling mengerikan yang pernah ia jalani selama ini.
Ketika sang juru ramal memberikan aba-aba bahwa pengundian siap dilaksanakan, setiap hati yang ada disana mulai tegang, setiap jantung mulai berdegup dengan kencang serta puluhan rasa semakin cemas dalam kegelisahan mendalam.
Apa yang dikhawatirkan Abdul Muthalib, ternyata itu pula hasil akhir dari pengundian ini. Nama Abdullah ditetapkan sebagai satu-satunya anak yang harus dikorbankan. Tubuhnya melunglai seakan tulang-tulangnya tercabut, hatinya hancur menjadi kepingan debu yang berhamburan tanpa arah dan puluhan mata yang melihat tak henti menyeka air mata yang tiba-tiba membanjiri wajah mereka.
Rasa sesal sudah tiada atinya, Nadzar telah terucap, pilihan sudah ditetapkan dan hanya menyisakan saat-saat yang mendebarkan itu.
Sebilah pedang tajam tergenggam ditangan kanan Abdul Muthalib dengan eratnya, sementara tangan kirinya menuntun Abdullah dengan penuh kelembutan menuju altar yang berada diantara berhala Ishaf dan Na'ilah.
Dengan langkah yang beriringan ayah dan anak ini semakin mengeratkan genggaman tangan mereka seakan keduanya saling mengatakan "semua akan baik-baik saja" seperti yang terjadi pada nenek moyang mereka, yaitu Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih putranya Nabi Ismail sebagai bentuk ketundukan kepada Allah swt.
Ditengah-tengah langkah mereka berdua yang dipakasakan untuk tetap tegak, ternyata masayarakat yang hadir mulai menjunjukan keperduliannya. Sikap tidak menerima keputusan ini mulai muncul, protes mulai ditunjukan terutama oleh keluarga dari klan Makhzum yakni Fatimah binti Amr yang merupakan ibu kandung dari Abdullah.
Ibu mana yang akan rela membiarkan anaknya yang tak berdosa harus menjadi korban dan melepaskan nyawa tanpa ada pembelaan. Satu-satunya istri Abdul Muthalib yang memiliki pengaruh yang sangat kuat dikalangan masyarakat Mekah waktu itu, tetap tidak bisa menerima keputusan ini, kendati sangat memahami nadzar yang harus ditepati oleh sang suami.
Protes itu semakin kuat, diikuti semua masyarakat yang menyaksikan kejadian itu, hingga mereka bersepakat untuk berupaya menghentikan pembunuhan yang akan dilakukan oleh Abdul Muthalib.
"Wahai Abdul Muthalib!, apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan ini?"
"Aku akan menepati jandi nadzarku!" jawab Abdul MuthalibSeketika itu masyarakat yang hadir menyahut dengan teriakan tidak setuju sambil mengingatkan hal yang akan terjadi dikemudian hari bila pimpinan mereka tetap melaksanakan pembunuhan ini.
"tidak, Tuan tidak boleh membunuh putra Tuan sendiri. Jiak Tuan tetap memakasa untuk melakukannya, maka orang-orang diseluruh Arab juga akan membunuh anak mereka kerena meniru apa yang telah Tuan lakukan saat ini. Bagai mana jadinya jika hal seperti ini menjadi tradisi orang Arab?"Abdul Muthalib tetap tidak mau menggubris protes itu, semua tidak diperdulikannya. Dia tetap tegak melangkah diikuti Abdullah yang sudah pasrah demi membantu menutaskan janji sang Ayah dengan meregang nyawa dalam belaian pedang ayahnya itu.
Keegoisan Abdul Muthalib telah memaksa salah seorang pimpinan dari klan Makhzum untuk bertindak, yakni Al-Mughirah ibn 'Abdillah langsung turun tangan untuk mengingatkannya. Bagai manapun ia memiliki hak atas Abdullah putra dari putrinya Fatimah dan bertanggung jawab atas keselamatan cucunya itu.
Sambil meraih tanggan Abdul Muthalib, Al-Mughirah dengan lantang berkata :
"Demi Allah!, Tuan jangan pernah membunuh putra Tuan sendiri, apapun itu alasannya! Jika harus ditebus dengan harta kami akan rela menyiapkannya demi kepentingan itu."Kemudian salah seorang dari masyarakat yang juga tidak sepakat dengan keputusan itu ikut menguatkan;
"Hai Abdul Muthalib, temuilah seorang wanita dukun peramal di Hijaz yang memiliki khodam dari bangsa jin! Anda mintalah keputusan darinya, jika memang harus menyembelih Abdullah, maka sembelihlah dia! namun, bila ada cara lain sebagai penggantinya, maka terimalah sarannya itu!"Seketika teguran itu berhasil membuyarkan konsentrasi pikiran Abdul Muthalib. Dibenaknya kini tergambar Fatimah, sebagai seorang ibu yang hancur hatinya menjadi kepingan kesedihan yang tidak bisa di satukan lagi, karena harus melihat anaknya sendiri meregang nyawa karena sabetan pedang ayahnya.
Sampai disini kekuatan cinta sementara masih menyelamatkan nyawa Abdullah dari tajamnya pedang Abdul Muthalib.
Lanjutkan ke : Undian Itu Berbuah Kebahagiaan Bagi Abdul Muthalib

Posting Komentar untuk "Akibat Nadzar, Ayah Abdullah Harus Menghadapi Dilema"