Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Undian Itu Berbuah Kebahagiaan Bagi Abdul Muthalib

Undian Itu Berbuah Kebahagiaan Bagi Abdul Muthalib - Untuk sementara hatinya tidak selimbung seperti ketika berada di depan juru ramal. Saat yang sangat singkat itu seperti dalam keadaan kepungan musuh yang beringas, sementara ditangan tidak ada senjata apapun untuk mempertahankan diri.

Sebelum melanjutkan postingan ini sebaiknya baca dulu : Akibat Nadzar, Ayah Abdullah Harus Menghadapi Dilema karena dari sanalah tulisan ini berawal.

Undian Itu Berbuah Kebahagiaan Bagi Abdul Muthalib

Hijaz menjadi tujuan untuk memburu harapan, semoga Abdullah bisa terselamatkan dari kejamnya nadzar, gumam hati Abdul Muthalib. Ditemani beberapa orang putranya beserta sebagian anggota keluarga bani Quraisy Abdul Muthalib bergegas berangkat menuju Hijaz untuk menemui seorang wanita yang katanya sebagai dukun yang sakti yang memiliki budak dari golongan bangsa jin.

Disepanjang perjalanan hati dan benaknya tidak pernah terdiam, ada rasa yang masih bergejolak; harapan, kekhawatiran, penyesalan dan berbagai hal menyangkut keselamatan putra dan kebahagiaan Fatimah istrinya. Nadzar yang diucapkannya beberapa tahun yang lalu seakan menjadi belenggu dari bara api yang kini menjeratnya.

Terik matahari yang menyengat, badai pasir yang sesekali menghadang perjalan mereka dan angin padang pasir yang membawa ceceran panas ikut mewarnai perjalanan mereka. Namun, karena ada tujuan yang lebih penting dan lebih besar, perjalanan itu terasa ringan kendati sebenarnya penuh halangan dan rintangan.

Sesampainya di Yastrib ternyata wanita itu telah berpindah tempat, kini dia bermukim di Khaibar sebuah daerah yang subur di sebelah utara Yastrib yang dihuni oleh orang-orang Yahudi.

Akhirnya rombongan itupun harus siap-siap kembali melakukan perjalanan jauh dan berhadapan kembali dengan congkaknya padang pasir. Jarak yang harus mereka tempuh itu tidak kurang dari 100 mil. Namun, itupun tidak menjadi beban, karena tujuan yang ingin didapat lebih penting dari perjalanan panjang dan berliku.

"Kalian kembalilah esok hari kesini, aku akan berkomunikasi dulu dengan jinku!", kata wanita itu setelah ditemui oleh Abdul Muthalib dan rombongannya.

"Wahai Allah Tuhanku, jangan Engkau wujudkan sesuatu yang telah aku khawatirkan, Jauhkanlah Abdullah dari segala kejelekan yang aku khawatirkan. Sesungguhnya harapanku adalah agar anaku ini bisa menjadi pemimpinnya manusia" Doa Abdul Muthalib disepanjang perjalanan menuju penginapan. Doa itu dia gumamkan dari semenjak dia berangkat dari mekah ke Hijaz dan sepanjang perjalanan menuju tempat ini.

Ketika menemui dukun itu pada keesokan harinya, Abdul Muthalib langsung mendapatkan penjelasan mengenai hal yang telah didapatkan oleh dukun itu dari jin yang menjadi pembantunya, sebagai jawaban masalah dan jalan keluar dari persoalan yang sedang dialami Abdul Muthalib.

"Aku telah medapat petunjuk dari jinku. Berapa harga denda pembunuhan di wilayah kalian?" tanya dukun itu.

"10 ekor unta" jawab Abdul Muthalib dan rombongan."

"Sekarang, pulanglah kalian, persembahkan Abdullah dan 10 unta lalu undilah. Jika hasil undian itu masih mengarah pada Anakmu, maka tambahlah unta persembahkan hingga Tuhan memberikan Ridhanya. Namun, jika undian itu jatuh pada unta maka sembelihlah unta-unta itu sebab Tuhan telah menghendaki keselamatan anak itu."

Itulah jalan keluar yang diberikan wanita dukun peramal untuk menyelamatkan Abdullah dari nadzar Abdul Muthalib. Kendati, itu masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Abdul Muthalib, karena prosesnya masih sama, yaitu harus dengan jalan di undi kembali dan tidak menjadi jaminan penuh yang bisa menenangkan perasaannya.

Selama hayat masih dikandung badan, maka harapan itu masih bisa dikejar, kendati dengan cara yang sangat berat atau pun dengan jalan yang sangat terjal. Itulah setidaknya yang kini menjadi modal utama dari Abdul Muthalib.

Undian mengenai hidup matinya Abdullah, kini kembali menggegerkan kota Mekah. Kaum Quraisy kembali berkumpul mengitari tempat sekitar berhala Ishap dan Na'ilah untuk memberikan doa dan dukungan kepada orang yang selama ini mereka junjung dan mereka hormati.

Abdul Muthalib terlihat kembali berdiri disisi sang juru ramal, untuk melaksanakan undian kedua guna menentukan hidup dan matinya Abdullah, putra bungsu yang sangat ia sayangi.

Undian pertamapun dilakukan dan Abdullah yang keluar sebagai koraban. Undian diulang kembali dengan menambah sembahan 10 ekor unta. Namun, setiap kali undian dilakukan dan ditambahkan 10 ekor unta, selalu saja Abdullah yang keluar sebagai yang harus dikorbankan. Hingga pada undian dengan sembahan sebanyak 100 ekor unta barulah Abdullah selamat dan yang harus dikorbankan adalah 100 ekor unta.

Namun, disaat kebahagiaan masyarakat dan keluarga yang menyaksikan undian tersebut mulai menyala dan orang-orang meneriakan bahwa Tuhan kini telah ridha kepada perjuangan Abdul Muthalib, namun bagi Abdul Muthalib, hal itu belum cukup kecuali undian itu harus dilakukan 2 kali lagi. Bila hanya baru satu kali, itu belum cukup menegaskan keridhaan Tuhannya.

Dengan terpaksa, Abdullah dan saudar-saudaranya yang lain berserta masyarakat yang hadir, harus kembali menahan rasa gembira dan bahagianya. Mereka harus kembali menanti hasil undian dua kali lagi dengan detak jantung yang kembali harus menderu.

Begitulah ketegasan Abdul Muthalib yang tidak setengah-setengah dalam memimpin kaumnya, termasuk dalam mengambil keputusan hukum, kendati untuk menghukumi dirinya. Janji adalah amanat yang tidak bisa dielakan dan tidak boleh diinkari karena janji adalah harga diri apa lagi dihadapan ilahi.

Hingga penghujung undian ke tiga, hasil undian masih mengarah pada 100 ekor unta yang harus dikorbankan. Seketika itu pula rasa bahagia semua orang yang ada disana meledak ledak. Terutama Abdul Muthalib, keputusannya untuk menunaikan janji kepada Tuhannya ternyata berujung kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.

Pesta syukuran langsung dilaksanakan, 100 ekor unta langsung disembelih di antara berhala Ishaf dan Na'ilah dan dagingnya bebas dinikmati oleh semua penduduk Mekah sebagai bagian dari rasa syukur atas selamatnya kepala Abdullah dari sabetan pedang Abdul Muthalib.
Wallahu a'lam.

Posting Komentar untuk "Undian Itu Berbuah Kebahagiaan Bagi Abdul Muthalib"